Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2012

Aceh dan Musem Luah Blang

KAMIS (22/3) merupakan hari pertama kampanye terbuka. Para kandidat Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota menyampaikan visi dan misi di sidang paripurna DPRA dan DPRK. Berbagai program cet langet dibungkus rapi dalam visi dan misi itu. Kalau dipikir-pikir, program mereka tak jauh berbeda, semuanya  bermuara pada bagaimana mewujudkan kesejahteraan sekaligus menjaga perdamaian tetap abadi. Mereka begitu bersemangat membuat rakyat terbius sekaligus terlena pada program-program mereka.

Ini memang lagi musim jual kecap. Tak perlu heran, jika di setiap tempat digelar kecap dagangan, dari kecap berkualitas bagus, sampai kecap basi. Mereka selalu berteriak, “Inilah kecap nomor satu!” Tak ada yang mau disebut menjual kecap nomor dua. Para penjual ini pun sudah cukup pandai peh tem karena memang semuanya jago olah.

Oh ya, mereka juga berkali-kali menandatangani ikrar mewujudkan Pilkada damai. Mereka juga sering mengikrarkan akan bersaing secara sehat, tak menggunakan cara-cara kasar, intimidasi dan teror. Untuk membuktikan keseriusannya mereka produktif mengumumkannya di media. Meski di sisi lain, kita kerap disuguhi fakta yang berbeda.

Bagi saya, inilah saat di mana Aceh memasuki musem luah blang. Suatu musim di mana sejumlah hal tabu yang sebelumnya tak boleh dilakukan, menjadi dibolehkan. Hukum dibuat menjadi lebih longgar. Sanksi ditiadakan.

“Syi perjelas dilee pue musem luah blang?” interupsi seorang kawan saya. Dia memang paling kritis dan selalu memperhatikan hal-hal kecil.

Baiklah, saya akan bercerita dulu soal musem luah blang. Ada atau tidaknya interupsi itu, istilah musem luah blang memang perlu diperjelas. Sebab, sudah tabiat kita di sini, sering membungkus suatu ketidakjelasan ditutup dengan ketidakjelasan lain. Akibatnya, benar-benar menjadi tak jelas!

Secara bebas (terjemahan dari bahasa Aceh ke bahasa melayu) musem luah blang dapat diterjemahkan sebagai ‘musim luas lahan/sawah’. Kedengarannya sangat lucu, bukan? Inilah kelemahan dari penerjemahan: membuat martabat suatu bahasa menjadi rendah makna yang dikandungnya ketika dialihbahasakan.

Istilah musem luah blang merujuk pada kondisi saat petani melakukan panen secara serentak (koh pade). Saat musim koh pade  masyarakat di kampung-kampung (terutama kaum perempuan) senang bukan kepalang. Inilah saatnya mereka memanen hasil dan mengumpulkan rupiah dengan cara menjadi pengangkut nimbai (ukuran satu ikat batang padi seukuran genggaman orang dewasa).

Sawah-sawah yang sebelumnya dipenuhi tanaman padi, kini mulai polos berganti hamparan jeundrang dan jerami. Para kaum perempuan lalu lalang di sawah, berpindah dari satu sawah ke sawah lain, untuk angkut nimbai.

Masyarakat di Aceh rata-rata menanam padi dua kali dalam setahun. Sesekali bahkan bisa hingga tiga kali, sering disebut padi salah musim. Maka musem luah blang di Aceh terjadi dua kali setiap tahun, kadang sampai tiga kali.

Dulu saat teknologi pertanian belum maju (belum ada sistem irigasi) serta masyarakat masih mengandalkan hujan (sawah tadah hujan), musem luah blang bisa berlangsung lama. Kondisinya jauh berbeda dengan sekarang. Selesai panen biasanya masyarakat hanya menunggu sebentar dan kemudian bersiap-siap menanam lagi.

Saat musem luah blang, masyarakat akan melepaskan ternak secara bebas. Anak-anak mulai bermain layang-layang di sawah, sebagian lain memilih bermain bola. Ada masyarakat menanam cabai, jagung, tembakau, kedelai atau semangka. Jika tak punya lahan sendiri, mereka menyewa lahan orang lain. Intinya, masyarakat bisa melakukan sesuatu secara bebas.

Namun, saat musim tanam, hal-hal tersebut menjadi ‘haram’ dilakukan. Tak boleh sesuka hati. Jika ingin menanam padi harus dilakukan di lahan sendiri, tak boleh di lahan orang lain. Bagi pemilik ternak tak boleh melepaskan ternah sembarangan. Anak-anak tak boleh bermain layang-layangan, lebih-lebih bermain bola. Bermain di lampoh soh saja yang dekat dengan sawah warga bisa berisiko jika bola jatuh mengenai tanaman padi.

Jika tak mengindahkan larangan-larangan ini alamatnya bisa celaka. Bagi pemilik ternak, jangan harap ternaknya kembali ke kandang dalam kondisi normal. Masih syukur jika dagingnya masih bisa dibawa pulang untuk dikonsumsi. Bagi anak-anak yang bermain layang atau bola pasti akan keunong geulawa. Bolanya bisa ditebas.

Saya pikir, penjelasan singkat di atas bisa memberi gambaran (meski sedikit) untuk membedakan antara musem luah blang dan musim tanam. Jika boleh membuat tamsilan, saya ingin menamsilkan musem luah blang dengan kondisi kita hari ini, sementara musim tanam seperti masa saat Aceh masih dibalut konflik dan dalam cengkeraman militer (darurat militer).

Saya yakin semua kita punya memori tentang kondisi Aceh ketika berada dalam suasana darurat militer. Bagi yang punya memori pendek dan gampang lupa, bolehlah saya mengajak kita kembali ke saat darurat militer. Hukum yang berlaku adalah hukum militer. Bendera yang boleh dikibarkan adalah merah putih. Media tak boleh sembarang menulis. Wartawan yang meliput harus memiliki surat atau izin dari penguasa militer (Penguasa Darurat Militer Daerah-PDMD). Orang tak boleh sembarangan berleha-leha, sebab sering risikonya mati. Demonstrasi menentang negara dilarang. Rapat-rapat, lebih-lebih rapat gelap dipantau. Pokoknya serba diawasi.

Kini pantangan-pantangan itu sudah tak ada lagi bersebab kesepahaman MoU Helsinki. Istilah yang beberapa tahun belakangan sering disebut, diulang-ulang dengan semangat sambil menepuk dada. Sebab, MoU itu dianggap pencapaian tertinggi, meski sebenarnya adalah sebuah kecelakaan sejarah. Sebuah pengkhianatan pada cita-cita dan ideologi, terutama jika dikaitkan dengan sikap ‘kita akan berdamai jika merdeka adalah solusinya’.

Kita pun masuk dalam musem luah blang. Hal-hal yang saat musim tanam berlabel ‘tabu’ menjadi bebas dilakukan. Jik dulu saat bermain layang-layang kita tak pernah berkelahi, kini karena benang layang kita bergesekan dan tersangkut pada benang layang kawan harus meu-roro-darah. Jika dulu saat bermain bola kita berjibaku hingga berjatuhan, patah pate, kita masih bisa tertawa, kini hanya karena keunong sumbo kita tak lagi saling bicara. Kita menjadi gampang mengumbar istilah ‘pengkhianat’ yang dulu hanya ditujukan untuk sang musuh.

Ah, ini kan lagi musem luah blang! Boleh peulheuh layang ubee-be panyang beunueng, tapi tak boleh melampaui layangku! Begitu titah anda sekarang. Hom hai!

Aceh dan Musem Luah Blang

KAMIS (22/3) merupakan hari pertama kampanye terbuka. Para kandidat Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota menyampaikan visi dan misi di sidang paripurna DPRA dan DPRK. Berbagai program cet langet dibungkus rapi dalam visi dan misi itu. Kalau dipikir-pikir, program mereka tak jauh berbeda, semuanya  bermuara pada bagaimana mewujudkan kesejahteraan sekaligus menjaga perdamaian tetap abadi. Mereka begitu bersemangat membuat rakyat terbius sekaligus terlena pada program-program mereka.

Ini memang lagi musim jual kecap. Tak perlu heran, jika di setiap tempat digelar kecap dagangan, dari kecap berkualitas bagus, sampai kecap basi. Mereka selalu berteriak, “Inilah kecap nomor satu!” Tak ada yang mau disebut menjual kecap nomor dua. Para penjual ini pun sudah cukup pandai peh tem karena memang semuanya jago olah.

Oh ya, mereka juga berkali-kali menandatangani ikrar mewujudkan Pilkada damai. Mereka juga sering mengikrarkan akan bersaing secara sehat, tak menggunakan cara-cara kasar, intimidasi dan teror. Untuk membuktikan keseriusannya mereka produktif mengumumkannya di media. Meski di sisi lain, kita kerap disuguhi fakta yang berbeda.

Bagi saya, inilah saat di mana Aceh memasuki musem luah blang. Suatu musim di mana sejumlah hal tabu yang sebelumnya tak boleh dilakukan, menjadi dibolehkan. Hukum dibuat menjadi lebih longgar. Sanksi ditiadakan.

“Syi perjelas dilee pue musem luah blang?” interupsi seorang kawan saya. Dia memang paling kritis dan selalu memperhatikan hal-hal kecil.

Baiklah, saya akan bercerita dulu soal musem luah blang. Ada atau tidaknya interupsi itu, istilah musem luah blang memang perlu diperjelas. Sebab, sudah tabiat kita di sini, sering membungkus suatu ketidakjelasan ditutup dengan ketidakjelasan lain. Akibatnya, benar-benar menjadi tak jelas!

Secara bebas (terjemahan dari bahasa Aceh ke bahasa melayu) musem luah blang dapat diterjemahkan sebagai ‘musim luas lahan/sawah’. Kedengarannya sangat lucu, bukan? Inilah kelemahan dari penerjemahan: membuat martabat suatu bahasa menjadi rendah makna yang dikandungnya ketika dialihbahasakan.

Istilah musem luah blang merujuk pada kondisi saat petani melakukan panen secara serentak (koh pade). Saat musim koh pade  masyarakat di kampung-kampung (terutama kaum perempuan) senang bukan kepalang. Inilah saatnya mereka memanen hasil dan mengumpulkan rupiah dengan cara menjadi pengangkut nimbai (ukuran satu ikat batang padi seukuran genggaman orang dewasa).

Sawah-sawah yang sebelumnya dipenuhi tanaman padi, kini mulai polos berganti hamparan jeundrang dan jerami. Para kaum perempuan lalu lalang di sawah, berpindah dari satu sawah ke sawah lain, untuk angkut nimbai.

Masyarakat di Aceh rata-rata menanam padi dua kali dalam setahun. Sesekali bahkan bisa hingga tiga kali, sering disebut padi salah musim. Maka musem luah blang di Aceh terjadi dua kali setiap tahun, kadang sampai tiga kali.

Dulu saat teknologi pertanian belum maju (belum ada sistem irigasi) serta masyarakat masih mengandalkan hujan (sawah tadah hujan), musem luah blang bisa berlangsung lama. Kondisinya jauh berbeda dengan sekarang. Selesai panen biasanya masyarakat hanya menunggu sebentar dan kemudian bersiap-siap menanam lagi.

Saat musem luah blang, masyarakat akan melepaskan ternak secara bebas. Anak-anak mulai bermain layang-layang di sawah, sebagian lain memilih bermain bola. Ada masyarakat menanam cabai, jagung, tembakau, kedelai atau semangka. Jika tak punya lahan sendiri, mereka menyewa lahan orang lain. Intinya, masyarakat bisa melakukan sesuatu secara bebas.

Namun, saat musim tanam, hal-hal tersebut menjadi ‘haram’ dilakukan. Tak boleh sesuka hati. Jika ingin menanam padi harus dilakukan di lahan sendiri, tak boleh di lahan orang lain. Bagi pemilik ternak tak boleh melepaskan ternah sembarangan. Anak-anak tak boleh bermain layang-layangan, lebih-lebih bermain bola. Bermain di lampoh soh saja yang dekat dengan sawah warga bisa berisiko jika bola jatuh mengenai tanaman padi.

Jika tak mengindahkan larangan-larangan ini alamatnya bisa celaka. Bagi pemilik ternak, jangan harap ternaknya kembali ke kandang dalam kondisi normal. Masih syukur jika dagingnya masih bisa dibawa pulang untuk dikonsumsi. Bagi anak-anak yang bermain layang atau bola pasti akan keunong geulawa. Bolanya bisa ditebas.

Saya pikir, penjelasan singkat di atas bisa memberi gambaran (meski sedikit) untuk membedakan antara musem luah blang dan musim tanam. Jika boleh membuat tamsilan, saya ingin menamsilkan musem luah blang dengan kondisi kita hari ini, sementara musim tanam seperti masa saat Aceh masih dibalut konflik dan dalam cengkeraman militer (darurat militer).

Saya yakin semua kita punya memori tentang kondisi Aceh ketika berada dalam suasana darurat militer. Bagi yang punya memori pendek dan gampang lupa, bolehlah saya mengajak kita kembali ke saat darurat militer. Hukum yang berlaku adalah hukum militer. Bendera yang boleh dikibarkan adalah merah putih. Media tak boleh sembarang menulis. Wartawan yang meliput harus memiliki surat atau izin dari penguasa militer (Penguasa Darurat Militer Daerah-PDMD). Orang tak boleh sembarangan berleha-leha, sebab sering risikonya mati. Demonstrasi menentang negara dilarang. Rapat-rapat, lebih-lebih rapat gelap dipantau. Pokoknya serba diawasi.

Kini pantangan-pantangan itu sudah tak ada lagi bersebab kesepahaman MoU Helsinki. Istilah yang beberapa tahun belakangan sering disebut, diulang-ulang dengan semangat sambil menepuk dada. Sebab, MoU itu dianggap pencapaian tertinggi, meski sebenarnya adalah sebuah kecelakaan sejarah. Sebuah pengkhianatan pada cita-cita dan ideologi, terutama jika dikaitkan dengan sikap ‘kita akan berdamai jika merdeka adalah solusinya’.

Kita pun masuk dalam musem luah blang. Hal-hal yang saat musim tanam berlabel ‘tabu’ menjadi bebas dilakukan. Jik dulu saat bermain layang-layang kita tak pernah berkelahi, kini karena benang layang kita bergesekan dan tersangkut pada benang layang kawan harus meu-roro-darah. Jika dulu saat bermain bola kita berjibaku hingga berjatuhan, patah pate, kita masih bisa tertawa, kini hanya karena keunong sumbo kita tak lagi saling bicara. Kita menjadi gampang mengumbar istilah ‘pengkhianat’ yang dulu hanya ditujukan untuk sang musuh.

Ah, ini kan lagi musem luah blang! Boleh peulheuh layang ubee-be panyang beunueng, tapi tak boleh melampaui layangku! Begitu titah anda sekarang. Hom hai!

22 Februari 2012

Ronda Berbuntut Skorsing

Kebijakan pemerintah daerah menetapkan adanya Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) berujung duka bagi sebagian masyarakat Aceh. Hal tersebut setidaknya dirasakan oleh Septian Mulya, salah satu outsorching Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit Ibu dan Anak, Banda Aceh.

Kisah Septian menerima skorsing diawali pada malam harinya, ia terkena “Jatah” jaga malam alias ronda di Kelurahan Punge Blang Cut, tempat ia menetap saat ini. Dalam tugas ronda tersebut, muka septian terlihat kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, pihak keamanan dari tempat ia tinggal telah mewanti-wanti agar tiap pemuda yang telah cukup umur, tidak menghindari kewajibannya “menjaga” pos ronda.

Pada pagi harinya, Septian yang sebenarnya telah diserahkan tugas oleh pihak RSIA untuk membuka setiap ruangan di instansi pemerintahan itu, tak kunjung terjaga setelah merehatkan tubuhnya usai subuh sepulang jaga malam.

Sayangnya, Septian yang diamanahkan memegang kunci tiap ruangan kantor itu baru terjaga setelah pukul 09.00 pagi dan langsung bergegas ke RSIA, yang letaknya tak jauh dari desa tempat ia tinggal. Namun, kelalaian yang disebabkan tugas Ronda ini berbuntut pada pemberian Surat Peringatan (SP) dari instansi tempatnya bekerja. Septian pun dikenakan sanksi skorsing selama hampir satu bulan.

“Mau bagaimana, menghindari tugas ronda pun saya tak mungkin. Menggantikan dengan orang lain, saya tak punya uang,” kisahnya, sembari membersihkan selokan di depan rumah.

Kisah Septian ini, merupakan satu dari seribu kasus yang dialami penduduk Aceh saat kewajiban Ronda Malam di adakan. Untung saja, saat Pj Gubernur Tarmizi A. Karim dilantik sebagai pimpinan daerah di Aceh, kewajiban ronda malam tersebut pun di cabut. Meskipun hanya bersifat sementara.

“Sekarang Ronda sudah dihentikan sementara waktu. Bulan tiga (Maret), Septian kena tugas ronda lagi.”

Mungkin, akan ada kisah-kisah tragis lain akibat jaga malam yang tidak hanya dirasakan oleh Septian si CS RSIA. Mungkin, episode Jaga Malam ke dua akan dialami oleh Septian sang Guru, Septian sang Dosen, Septian si Mahasiswa, Septian si Tukang Becak atau Septian-septian yang lain. Akankah kebijakan menjaga malam agar tak kunjung pagi ini berlanjut?[***]

08 Januari 2012

The Long Kiss Good Night dan Kisah Penyerangan Warga Non Aceh


SEMALAM saya menonton sebuah film garapan hollywood. Menurut pendapat pribadi saya sendiri, film ini masuk kategori menarik. Film ini mengajak untuk berhalusinasi sisi intelegensi kita dalam mengungkap kisah-kisah misteri, namun bukan dalam perspektif takhayul.


The Long Kiss Good Night, demikian judul film tersebut. Film ini menceritakan tentang seorang agen pembunuh wanita yang dididik oleh pemerintah Amerika. Dalam kisahnya, agen wanita bernama Samantha alias Charleine atau Charly ini hilang ingatan dalam penugasan misinya.Selama delapan tahun, Charly hidup tanpa mengetahui latar belakang dirinya sebagai seorang pembunuh yang dididik oleh Pentagon.


Kepribadian pasca amnesianya, Charly berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru dan lihai memainkan pisau dapur serta mempunyai reflek bagus ketika sewaktu-waktu mendapatkan serangan dari orang-orang yang hendak membunuhnya.Suatu hari, seorang penjahat yang pernah menjadi target wanita ini melihat Charly dalam parade festival Natal, melalui televisi dari dalam penjara. Karena terisnpirasi pada balas dendam pada Charly, penjahat tersebut kabur setelah mendekam selama delapan tahun. Target utamanya adalah membunuh Charly.


Penjahat ini berhasil mendatangi rumah Charly yang sedang merayakan Natal bersama keluarganya. Rasa dendam dari penjahat tersebut, nyaris membunuh keluarga Charly. Namun, berkat serangan brutal itu, ingatan Charly yang hilang mulai kembali. Karenanya, didukung Mark, seorang mantan Polisi yang dipecat dari kesatuannya akibat mencuri saham, Charly mencari tahu latar belakang kehidupannya sebelum amnesia.



Penelusuran jejak kehidupan Charly bersama Mark yang telah berprofesi sebagai detektif swasta membawa mereka ke Deadeulus, “tunangan” Charly. Keberhasilan awal dalam mengungkap kasus ini, dilakukan Mark dan Charly berkat adanya satu petunjuk berupa kartu Natal bertuliskan tangan Daedeulus, yang mengaku tunangan wanita ini.

Namun, di saat misteri mulai terungkap, ternyata Charly dan Mark baru menyadari Deadeulus adalah target misinya setelah dibantu mantan pelatih Charly dari agensi. Mereka hampir saja terbunuh karena pada saat itu, Deadeulus telah menyiapkan perangkap untuk menjebak Charly Cs. Akibatnya, Charly dan rekan-rekannya ditahan. Pelatih Charly tewas dalam penyekapan.

Berkat didikan di agensi pembunuh, akhirnya Charly berhasil kabur dari sekapan dan menyelamatkan Mark. Karena merasa mereka dijebak, Charly akhirnya menghubungi Tn. Peterskin, Direktur agensi cabang CIA, tempat Charly bertugas.

Wanita berambut pirang tersebut, kemudian memasang perangkap pada Tn. Petersekin karena ia mempunyai insting bahwa ada orang dalam CIA yang menginginkan ia mati. Benar saja, dibantu Timothy, pembunuh bayaran Tn. Petersekin di CIA, Charly hampir saja tewas.

Timothy diperintahkan Tn. Peterskin untuk menghabisi Charly karena wanita ini tahu terlalu banyak mengenai operasi “Honey Moon”. Operasi bulan madu ini merupakan operasi CIA pada tahun 1993 untuk menggalang dana dari dunia. Pada saat itu, karena keterbatasan dana, lembaga intelijen Amerika ini membuat sebuah theory conspiracy dengan mengorbankan 4 ribu jiwa warga Amerika, dengan melakukan pengeboman di World Trade Center (WTC).

Misi Honey Moon dapat dikatakan sukses dilakukan CIA, dimana pada saat itu dunia menuduh muslim garis keras adalah pelakunya. Akibatnya, seluruh dunia mengucurkan dana trilyunan dollar untuk membantu ‘Paman Sam’ menumpas muslim yang dilabelkan sebagai teroris tersebut.

Kucuran dana itu, banyak yang diselewengkan pejabat CIA termasuk Tn. Peterskin, dalang dari pengeboman WTC. Charly yang merupakan pembunuh wanita kelas I di agensi mengantongi kunci brankas penyimpanan uang anggaran penumpasan teroris tersebut.

Charly yang berupaya menyelamatkan anaknya dari tahanan Timothy, akhirnya berhasil menggagalkan rencana operasi Honey Moon II yang di prakarsai Tn. Peterskin. Honey Moon kedua merupakan misi pelepasan bom nuklir di kawasan Amerika dengan mengambinghitamkan seorang mayat muslim yang telah dibekukan agensi.

Keberhasilan Charly membuat Pentagon memecat Tn. Peterskin dan secara langsung Presiden Amerika berterima kasih pada agen pembunuh wanita ini.

Kisah The Long Kiss Good Night yang diangkat berdasarkan fenomena peperangan Amerika terhadap teroris merupakan sebuah kisah menarik yang layak ditonton, terutama anggota kepolisian di Aceh.

Kenapa kami menuliskan hal tersebut, karena berdasarkan fenomena adanya serangkaian aksi teror berupa pengeboman beberapa bulan lalu kemudian menyusul aksi penembakan pada warga-warga pendatang, menampakkan ada simpul menarik jika ditelusuri.

Jika pun Polda dan TNI di Aceh serius menangani kasus ini, kami yakin mereka akan berhasil menemukan siapa dalang di balik rangkaian aksi teror ini. Baik itu pelaku pengeboman, penembakan dan aksi kriminal bersenjata lainnya.

Pihak keamanan bisa menyelidiki latar belakang orang-orang yang dikorbankan dalam aksi pembantaian tersebut. Apakah mereka pernah berkumpul dalam satu forum, atau pernah terlibat dalam bisnis yang sama sehingga mendatangkan masalah di kemudian hari. Jangan hanya melihat perspektif memanasnya politik Aceh belaka. Bisa jadi, warga pendatang ini terjebak masalah di kampung halaman atau daerah asalnya dan kemudian bernasib naas di Aceh.

Akan tetapi, serangkaian aksi teror ini juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang hendak membuat Aceh mencekam. Pasalnya, saat ini negeri yang baru saja aman dari peperangan sedang menuju pesta demokrasi guna memilih pemimpin-pemimpin barunya. Dan sangat kebetulan, dalam perjalanan pesta demokrasi ini tidak semua elemen lembaga atau kandidat berhasil masuk sebagai calon pemimpin dalam bursa pemilihan Februari 2012 mendatang.

Hal yang kebetulan ini, kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk kembali menyingkap konflik Aceh dengan beragam kepentingan. Bisa jadi, aksi penembakan ini hanya didasari pada kepentingan bisnis personal antara korban dan pelaku atau ada motif lainnya yang terselubung.

Sebulan terakhir saja, ada empat kasus penembakan yang mengorbankan belasan korban. Kasus penembakan di perkebunan PT. Satya Agung, Aceh Utara dengan jumlah korban sebanyak tiga orang yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2012, misalnya. Penembakan para pekerja ini dilakukan bertepatan dengan hari perayaan sebuah institusi yang terlibat langsung dalam konflik beberapa tahun silam. Dalam penembakan ini, Sugeng (45), Karno (50) dan Herianto (30) tewas.

Kemudian menyusul penembakan para pekerja proyek Telkomsel yang bertepatan dengan perayaan tahun baru 2012. Dalam aksi ini, Daud (30), Suparno (31) dan Sunyoto (28) juga tewas. Nyaris sama dengan kasus penembakan di Bireuen ini, di Banda Aceh, Wagino (40) seorang pedagang pendatang dari luar Aceh juga tewas bersimbah darah pada saat perayaan tahun baru.

Dan yang terakhir adalah kisah penembakan sejumlah pekerja pendatang di Aneuk Galong, Sibreh yang menewaskan Gunoko (30).

Dari serangkaian penembakan ini, tiga kasus aksi teror dilakukan bertepatan dengan kesibukan pihak keamanan mengamankan daerah Aceh. Misalnya pada tanggal 4 Desember, pihak keamanan di Aceh fokus pada perayaan Milad GAM. Kemudian pada tanggal 31 Desember, pihak keamanan juga sedang difokuskan pada penjagaan beberapa tempat atau lokasi guna mengamankan momen tahun baru di Aceh. Sementara kasus terakhir, agak berbeda.

Dari hal ini, ada sebuah kunci atau teka-teki yang muncul selain identitas korban sebagai warga pendatang, pelaku misterius ini nampaknya paham benar situasi dan kondisi keamanan Aceh serta bisa menebak fokus pengamanan yang dilakukan kepolisian sehingga mempunyai peluang untuk mengejar target.

Bukan tidak mungkin, ada skenario dan dalang besar dalam aksi teror ini karena dari sisi operasi teror bisa kita petakan adanya sindikat yang bermain. Untuk mengantisipasi besarnya kemungkinan Aceh kembali ke ladang konflik, Presiden SBY memerintahkan Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo untuk segera menangkap penembak warga di Aceh. Ini merupakan peluang bagus untuk Polisi, jika memang mempunyai itikad baik menumpas aksi teror di Aceh dengan tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah. Dalam artian benar-benar menangkap pelaku penembak misterius tersebut.[***]


29 November 2011

Rapor Perdana Persiraja

Pertandingan perdana Persiraja di kancah IPL 2011/2012 telah dihelat di Stadion Harapan Bangsa, Minggu (27/11). Persiraja hanya memperoleh satu poin setelah dipaksa bermain imbang 3-3 oleh Persija ‘Siluman’ Jakarta.

www.acehcorner.com ingin memberikan penilaian kepada anak asuhan Herry Kiswanto. Penilaian ini subyektif. Sebab, bersumber pada pengamatan kami saja. Amat mungkin penilaian kami berbeda dengan pembaca. Kami, Anda, dan mereka pasti memiliki penilaian sendiri terhadap penampilan Abdul Musawir dan kawan-kawan.

Untuk menilai permainan secara umum dan lini per lini, kami menggunakan skala abjad A,B,C,D. Dengan rincian A yang terbaik, B baik, C cukup, dan D buruk. Untuk menilai personal, kami menggunakan skala penilaian 1-10. Angka 1 untuk nilai terendah dan 10 untuk yang tertinggi.

Secara umum, permainan Persiraja cukup bagus. Tampil dengan pola 4-4-2, Persiraja bermain lumayan lepas dan agresif, penguasaan bola dominan, umpan dari kaki ke kaki juga terbilang lancar, pola serangan variatif, perebutan lapangan tengah dimenangkan Djibril dan kawan-kawan. Hal ini membuat Persija hanya mengandalkan serangan balik cepat melalui kedua sayapnya dan cukup berhasil memainkan taktik ini. Dua gol mereka ke gawang Persiraja bersumber dari serangan balik cepat yang gagal dihadang pemain belakang Persiraja. www.acehcorner.com memberi nilai untuk keseluruhan permainan perdana Persiraja B.

Jika saja mampu mempertahankan kemenangan, kami tidak akan ragu memberi nilai A untuk tuan rumah.

Lini Belakang
Lini belakang kami berikan nilai C. Kebobolan dua gol melalui serangan balik cepat dan satu gol melalui tendangan bebas menunjukkan lini belakang Persiraja bermasalah. Lini belakang tidak berhasil membaca taktik permainan lawan. Bek kiri-kanan kalah cepat dengan sayap kiri-kanan lawan. Faktor ini diperparah oleh buruknya komunikasi sesama bek maupun penjaga gawang.

Gol kedua dan ketiga Persija ke gawang Yuda Andika kami taksir tersebab faktor komunikasi dan hilangnya konsentrasi bertahan. Penjaga gawang ragu-ragu dalam mengambil sikap juga memurukkan nilai lini belakang Persiraja.

Lini tengah
Lini tengah tampil paling baik. Kami menabalkan A untuk lini sentral ini. Djibril berhasil mengontrol permainan. Playmaker asal Guinea ini sukses menjadi kreator serangan Lantak Laju. Defri dengan kecepatannya mampu merepotkan pertahanan Persija di babak pertama. Sayang pemain bertubuh mungil ini tidak tampil penuh. El kapiten juga menunjukkan kemampuannya. Dua gol dari kaki kiri bukti sahih kemampuan dan kematangan pemain berambut jingkrak itu.

Hanya Erik Saputra yang tampil kurang lugas. Beberapa kali ia salah dalam mengumpan dan terlambat merebut bola. Padahal, pada musim lalu mantan skuad PSSB ini selalu tampil ngotot dan konsisten sepanjang musim.

Lini depan
Lini depan mandul. Nyaris tidak memiliki peluang emas. Tapi penampilan mereka tidak seburuk lini belakang.

Untuk duet Imral Usman-Dillah kami berikan B. Imral Usman sempat mengancam lini bawah Persija pada babak pertama dengan gerakannya. Tapi pemain berambut ala Diego Michele itu kerap jatuh sebelum masuk kotak 12 pas. Satu gerakannya menghasilkan tendangan bebas dan berbuah gol.

Sedangkan Dillah tampil terlalu terburu-buru. Sebuah solo run Dillah yang seharusnya dapat dikonversi menjadi peluang, justru dikacaukan dribbling buruk hingga bola direbut lawan. Dalam satu kesempatan, kerjasama satu dua dengan Musawir juga buruk. Namun kengototannya patut mendapat apresiasi. Pemain bawah Persija sangat mewaspadai si Jangkung ini.

Nilai personal
Yuda Andika (kiper) mendapat nilai 6. Jika bukan laga perdana dan faktor lapangan licin, dengan performa seperti itu, Yuda akan kami berikan nilai merah. Kami berasumsi, itu penampilannya yang terburuk sepanjang memperkuat Persiraja.

Irwanto mendapat nilai 6,7, terbaik diantara pemain belakang lainnya. Ia masih tampak kokoh sebagai palang pintu di hadapan Yuda. Tapi keterlambatannya menutup gawang yang ditinggal Yuda saat terjadi gol ketiga, memurukkan nilainya.

Yusrizal kami berikan nilai 6,5, rekrutan baru ini kelihatannya belum kompak dengan Irwanto. Kami menduga komunikasi pemain ini masih bermasalah.

Andrea mendapat nilai 6,6. Kengototannya masih tampak, tapi kerap melakukan kesalahan yang tidak perlu, seperti mengganggu pergerakan lawan dengan badannya di sektor pertahanan lawan. Andrea cengderung mengandalkan fisik dalam bermain. Overlapping Andrea tidak banyak menghasilkan krosing dari rusuk kanan lawan. Beberapa kali bahkan ia telat mengumpan.

Gilang Angga kami berikan nilai 6,5. Satu gol dari tendangan spekulasinya yang cantik mengangkat nilai mantan pemain Persib Bandung dari seharusnya 6. Sering kalah speed dengan lawan. Dari pinggir sisiran Angga dua kali gawang Persiraja robek.

Erik Saputra kami berikan nilai 7,2. Gelandang bertahan enerjik ini belum menunjukkan kemampuan terbaiknya. Sore itu Erik tidak segarang musim lalu ketika masih di level Divisi Utama. Ia cuma tampil lumayan.

Djibril tampil memukau, andai satu tendangannya dari lapangan tengah menghasilkan gol, kami tidak akan ragu memberinya angka 8,5. Tapi karena tidak menghasilkan gol, kami kira Djibril lebih dari pantas mendapatkan nilai 8.

Abdul Musawir memperoleh nilai tertinggi dari seluruh pemain, 8,5. Satu gol tendangan bebas cantik dan satu gol melalui titik putih pantas menjadikannya sebagai Man of The Match dalam pertandingan itu.

Defri kami berikan nilai 7,8. Kecepatannya merepotkan pertahanan lawan khususnya di babak pertama. Andai ia dipertahankan bermain penuh, bukan mustahil Dillah akan membuat gol dari krosingnya.

Imral Usman di babak pertama bermain bagus. Kami berikan nilai 6,9. Ngotot dan gerakan dalam menyongsong umpan dari tengah bagus. Karena tidak ada gol, ia tidak mungkin mendapatkan nilai di atas 7.

Dillah tidak tenang. Ia terlalu terburu-buru. Aksinya tidak membahayakan lawan. Dillah sering melakukan back pass setelah menerima umpan. Padahal, seorang striker sesekali perlu mengelabui bek lawan setelah menerima umpan. Karena gigih, maka kami berikan Dillah angka 6,9.

Mukhlis Nakata yang masuk menggantikan Defri di awal babak kedua tidak menunjukkan kemampuannya. Cuma sekali memiliki kesempatan krosing, dan tidak berhasil dilakukan dengan baik. Nakata pantas mengantongi angka 6,5. Padahal, Herkis memainkannya untuk menambahkan daya gedor dari sayap kanan. Tapi itu tidak terjadi.

Syakir Sulaiman masuk menggantikan Imral Usman. Pemain U-21 ini gagal unjuk gigi. Salah satu umpannya kami tangkap gagal. Kurang lebih ia tampil sekualitas Nakata. 6,5 kami pikir cukup untuk Syakir.

Pelatih Herry Kiswanto kami berikan nilai 8. Pola yang dimainkan anak asuhnya, menurut kami bagus. Herry berhasil memprovokasi asuhannya untuk menguasai bola lebih lama. Permainan satu dua cantik dan mulus. Tapi, ia kami anggap berjudi ketika mempertahankan Gilang Angga untuk bermain penuh. Asumsi kami, setelah Angga mencetak gol, ia pantas ditarik keluar. Speed-nya menurun drastis di babak kedua. Karena dia kalah speed untuk menahan laju lawan, Persija mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Jika saja Persiraja menang, Herkis akan memperoleh angka 8,5. Ini penilain kami, mana penilaian Anda? [editorial acehcorner.com]

03 November 2011

Midle Class, Perisai Demokratisasi

[caption id="attachment_934" align="alignleft" width="245" caption="Maimun, MA"][/caption]

Oleh Maimun, MA

Dahulu, kita pernah hidup di bawah rezim diktator dalam waktu yang tergolong lama. Hampir semua, dan bahkan seluruh sisi kehidupan kita dihegemoni penguasa saat itu. Betapa besar risiko dari pengaruh yang ditimbulkan oleh suasana yang non demokratis, contohnya saja dalam proses pendidikan.

Pendidikan seharusnya sebagai suatu proses pendewasaan telah berubah menjadi ajang “doktrinasi”. Pendidikan tidak berfungsi sebagai alat pembangunan dan pencapaian demokratisasi pada saat itu. Sehingga, tidak mengherankan apabila sistem yang dibangun telah menyebabkan bangsa ini terjebak dalam suasana yang sifatnya destruktif. Akhirnya kehancuran dan keterbelakangan tidak dapat dihindari sebagai sebuah risiko yang harus kita terima.

Sekarang, telah lebih dari 10 tahun kita berada pada masa reformasi. Reformasi seyogianya berfungsi sebagai media transisi menuju sistem yang good governance dan cleane goverment. Secara filosofi, bahwa transisi sebagai suatu proses, butuh waktu dan pemikiran yang tidak sedikit. Bukan hanya sekedar itu, transisi juga membutuhkan konsistensi dan optimisme yang tinggi dari stakeholders. Dalam realitasnya, transisi yang terjadi tidak terkawal dengan baik, sehingga muncul berbagai disharmonisasi dalam hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Dalam masyarakat yang multikultural, salah satu penyebab lahirnya disharmonisasi adalah sikap etnosentrisme yang tinggi. Etnosetrime telah menyebabkan rasa toleran antar sesama bangsa ini semakin memudar, yang akhirnya berujung pada konflik.

Konflik sebagai salah satu bentuk akumulasi rasa tidak puas hati, yang apabila dibiarkan dapat menyebar dan memuncak, sehingga resiko yang harus diterima akan jauh lebih besar. Sebagai contoh, konflik politik yang terjadi di Aceh menjelang pemilukada. Kita sepakati bahwa pemilukada secara langsung sebagai salah satu wujud demokrasi yang mulai dibangun dalam masa transisi. Apabila demokrasi dibangun bukan atas dasar toleransi yang konstitusionil dalam sebuah negara yang multikultural, maka akan menyebabkan lahirnya anarkisme dalam setiap tindakan, dan ini telah ditunjukkan oleh berbagai kepentingan. Akhirnya, konflik politik semakin tidak dapat dihindari.

Di satu sisi kita pernah hidup dalam masa yang non demokratis dalam waktu yang tergolong lama, di sisi lain kita dihadapkan pada persoalan transisi yang belum berhasil. Apa yang mesti kita lakukan ke depan? Pertanyaan besar ini harus menjadi catatan penting bagi setiap kita yang memiliki good willing membangun bangsa yang beradab.

Tentunya, harus diakui bahwa peran midle class sebagai generasi pembaharu menjadi mutlak dan tidak dapat ditawar. Edwar W. Said pernah mengatakan bahwa midle class sebagai generasi pembawa perubahan harus mengambil berat dan benar-benar mengedepankan prinsip-prinsip moralitas dalam mengawal suatu dinamika. Midle class dapat berbentuk macam-macam, seperti organisasi mahasiswa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Midle class juga disebut sebagai cendikiawan, yang memegang teguh prinsip. Midle class berfungsi sebagai “perisai” atau media dalam membangun komunikasi antara pemerintah dengan rakyat.

Oleh karena itu, sebagai elemen civil society, organisasi pemuda dan mahasiswa atau LSM harus benar-benar memiliki prinsip dan berpegang teguh pada prinsip yang melekat pada diri mereka, yaitu: salah satunya prinsip “pengawalan”. Pengawalan yang dimaksud yaitu mengawal gerak dan dinamika yang terjadi, agar perubahan dapat terjadi dengan baik. Peran kelas menengah saat ini dirasa sangat minim, atau bahwa hampir tidak berperan sama sekali. Hal ini diakibatkan oleh orientasi masing-masing midle class tidak sama, sehinga untuk bersatu sangatlah sulit.

Persamaan visi dan misi serta orientasi para pembaharu sangatlah penting untuk dilakukan.  Karena hal itu akan mempersempit ruang gerak lahirnya pengkotakan-pengkotakan dalam midle class itu sendiri. Oleh karena itu konsolidasi sangatlah penting, karena skonsolidasi dapat berfungsi sebagai upaya membangun kepercayaana  antar sesama stake holders dalam merajut lahirnya demokratisasi di berbagai sisi secara subtansi.

Jika fungsi midle class ini telah benar-benar efektif dan efesien, maka hal berikutnya adalah merajut pembangunan dengan tekad kebersamaan dalam bingkai multikulturalis akan sangat mudah di capai.  dan sebaliknya, apabila midle class tidak menyadari tentang beban moralnya, maka kerusakan dan kehancuranpun akan kembali menjadi pilihan. Semoga saja perubahan dapat wujud dengan baik, hingga lahirnya demokratisasi yang subtansial.

Maimun, MA adalah Dosen ilmu politik pada program studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) FKIP Unsyiah