20 Agustus 2015

Surga Batu Giok di Aceh

Nagan Raya kini laksana putri cantik yang dikagumi seantero negeri. Kabupaten hasil pemekaran dari Aceh Barat ini dikenal sebagai surganya giok Aceh.

Nama kabupaten yang lahir berdasarkan UU No 4 Tahun 2002 pada 2 Juli 2002 itu tiba-tiba jadi buah bibir, tak hanya di Aceh, tapi juga sampai ke mancanegara. Nagan Raya berjarak 287 km atau 6 jam perjalanan darat dari Banda Aceh.

Penemuan giok yang ditaksir seberat 20 ton membuat Nagan Raya ramai didatangi warga dari daerah lain. Nama Nagan Raya pun sering kali menghiasi pemberitaan media, cetak dan elektronik. Apalagi, giok yang ditemukan tersebut dianggap batu mulia paling besar yang pernah ditemukan warga. Harganya pun ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah.

Giok itu ditemukan di aliran Sungai Krueng Isep oleh warga Desa Pante Ara, Beutong Ateuh, Nagan Raya. Warga di sini memang sehari-hari bekerja sebagai pencari batu alam. Mereka kerap keluar masuk hutan dan menyambangi sungai untuk mencari batu mulia.

Seperti dilansir banyak media, penemu pertama batu giok tersebut adalah Usman (45), warga Pante Ara. Ketika mencari batu bersama sejumlah warga, secara tak sengaja, Usman melihat sebuah batu besar yang tertutup dedaunan. Lokasi batu tersebut berada di dalam hutan lindung yang banyak tumbuh aneka pohon.

Mereka pun mendekat dan membersihkan daun yang menutupi seisi batu. Mereka pun terkejut setelah mendapati warna batu yang berbeda dari biasanya. Ukurannya cukup besar. Warga memperkirakan di dalamnya ada giok solar, idocrase dan neon. Ketiga jenis batu ini memang paling digemari masyarakat saat ini. Usman dan rekan-rekannya tak mengambil batu tersebut karena ada larangan dari pemerintah. Namun, rupanya, informasi penemuan batu tersebut cepat menyebar, sehingga warga dari daerah lain berbondong-bondong ke sana dan ingin mengambilnya.

Untuk menjaga agar batu tersebut tak diambil oleh warga, mereka sepakat menjaga batu tersebut, bahkan dengan cara menginap di hutan. Aparat dari kepolisian dan TNI pun ikut menjaga batu tersebut. Sejak itu, kisah batu giok seberat 20 ton menyebar kemana-mana.

Ya, itulah Nagan Raya. Kabupaten yang memiliki lahan pertanian yang cukup subur, karena ditunjang oleh keberadaan Krueng Beutong dan Krueng Nagan. Alhasil, produk dari pertanian di wilayah ini sangat melimpah. Tak hanya padi, melainkan juga hasil perkebunan seperti sawit. Karena sumber daya pertaniannya yang melimpah, Nagan Raya dikenal sebagai salah satu lumbung beras utama di Aceh. Bahkan, tahun 1987, presiden Soeharto, pernah berkunjung ke Nagan Raya, sebagai apresiasinya terhadap pertumbuhan hasil pertanian di daerah tersebut.

Sebelum adanya gangguan keamanan pada masa konflik Aceh, Nagan Raya menjadi pusat bagi transmigran yang menghidupkan sektor pertanian di kawasan ini. Namun setelah tahun 2001 banyak transmigran yang meninggalkan unit-unit permukimannya karena gangguan dan ancaman dari kelompok bersenjata. Kini, Nagan Raya kembali berharap dapat mengambil berkah dari lahan pertanian.

Berkah giok
Nagan Raya kini dikenal sebagai salah satu kota yang dianugerahi kekayaan alam berupa batuan yang melimpah. Diperkirakan batu alam yang beredar di Aceh lebih dari 50 persen berasal dari Nagan Raya. Jenis-jenis batu akik yang berasal dari Nagan Raya antara lain giok, napriet, jade, dan idocrase.

Begitu besar potensi kekayaan batuan alam Nagan Raya sehingga pemerintah setempat pun mengeluarkan moratorium pengambilan batu alam pada 5 Februari lalu.

“Menghentikan sementara seluruh aktivitas penambangan batu giok dan sejenisnya yang ada diseluruh wilayah Kabupaten Nagan Raya selama 1 (satu) bulan, terhitung mulai tanggal 5 Februari 2015 s/d 8 Maret 2015,” demikian bunyi salah satu keputusan dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Nagan Raya.

Moratorium ini ditujukan agar kegiatan-kegiatan penambangan tidak merusak lingkungan dan hutan lindung. Dengan moratorium tersebut, pemerintah ingin melindungi masyarakat dan sumber daya alam dari  potensi munculnya bencana seperti longsor, banjir, pecemaran air dan lain sebagainya.

Kalau praktik penambangan batu mulia ini tidak diatur, maka akan berpotensi merusak lingkungan. Apalagi, sekitar 1.000 orang menambang batu alam setiap hari di Nagan Raya. Pemerintah dan warga Nagan Raya perlu menjaga anugerah dari alam tersebut agar tidak menjadi sumber bencana. Siapa pun perlu merawat Nagan Raya sebagai surga-nya Giok Aceh. [diolah dari berbagai sumber]

----
Potensi Wisata di Nagan Raya
Selain memiliki potensi batu mulia yang cukup melimpah, Nagan Raya juga punya beberapa lokasi wisata yang indah. Potensi wisata tersebut belum tergarap secara optimal, karena akses ke Kabupaten ini masih melalui jalan darat. Selain itu, promosi objek wisata sangat kurang dilakukan. Seiring mendunia-nya giok Nagan, berbagai potensi wisata daerah ini perlu digarap. Apalagi, PT Garuda Indonesia Tbk sudah meresmikan rute penerbangan baru Kualanamu-Nagan Raya dan Meulaboh untuk pulang-pergi (pp), sejak Senin 2 Februari 2015. Penerbangan rute ini menggunakan pesawat ATR 72-600 yang berkapasitas 70 penumpang kelas ekonomi.

"Penerbangan baru ini juga sekaligus sebagai bentuk dukungan Garuda Indonesia untuk terus mendukung perkembangan industri pariwisata serta ekonomi nasional melalui penyediaan akses menuju destinasi-destinasi baru. Khususnya, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)," kata Pujobroto, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Garuda.

Jika anda berkunjung ke Nagan Raya, 12 objek wisata berikut ini patut anda kunjungi.
1. Air Terjun Krueng Isep, Gampong Pante Ara, Beutong.
2. Bendungan Irigasi Gampong Keude Semur, Beutong.
3. Danau Laut Tadu Gampong, Laut Tadu, Kecamatan Tadu Raya.
4. Pantai Indah Naga Permai Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir.
5. Pantai Suak Dama Gampong Babah Lueng, Kecamatan Tripa Makmur.
6. Pantai Nagaya Gampong Kuala Trang, Kuala Pesisir
7. Pantai Seunagan, Gampong Kubang Gajah, Kuala Pesisir
8. Makam Habib Muda Seunagan, Gampong Peulekung, Seunagan Timur
9. Makam Habib Muda di Gampong Pulo Le, Seunagan
10. Makam Teuku Seumot Gampong, Kecamatan Beutong
11. Panorama Gunung Singgahmata, Beutong
12. Masjid Syaikunna Gampong Gudang Buloh, Kecamatan Kuala.

Bumi Teuku Umar Tak Lagi Karam

Gelombang tsunami pernah meluluh-lantakan Meulaboh, Ibukota Aceh Barat. Kota kelahiran Teuku Umar yang terletak sekitar 175 km tenggara Banda Aceh itu nyaris lenyap dari peta. 

Kota terbesar di pesisir barat selatan itu cepat sekali bangkit. Berbagai sektor pembangunan mulai dibangun kembali. Pelabuhan kembali dibuka dan masyarakat pun beraktifitas seperti biasa. Dengan bantuan lembaga donor dan keuletan masyarakatnya, Meulaboh pun pulih kembali. Kini, Meulaboh sudah kembali menjadi pusat perdagangan dan jasa.

Di bawah Bupati HT Alaidinsyah, pembangunan Aceh Barat yang mencakup semua kegiatan daerah mulai dikebut dan dikelola bersama masyarakat. Titik berat pembangunan difokuskan pada pembangunan ekonomi kerakyatan melalui peningkatan dan perluasan lahan pertanian. Sektor pertanian merupakan penggerak utama ekonomi Aceh Barat. Kabupaten ini dikenal sebagai wilayah agraris yang memiliki potensi lahan pertanian cukup besar, terutama di daerah pedalaman. Pertanian merupakan sumber pencaharian utama sebagian besar masyarakat di wilayah ini.

Tanaman pangan yang dikembangkan meliputi padi sebagai komoditi utama dan juga palawija, seperti jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Luas lahan pertanian per 2011 mencapai 13.585 hektar, masing-masing padi sawah seluas 12.884 hektar, dan padi ladang seluas 701 hektar.

Dengan luas tersebut, hasil produksi panen mencapai 56.569 ton, berasal dari 55.166 ton padi sawah, dan 1.403 ton padi ladang. Kecamatan Pante Ceureumen, Woyla dan Kaway XVI menjadi daerah penghasil padi sawah terbesar di Aceh Barat, sementara Sungai Mas menjadi pusat padi ladang.

Selain hasil padi tersebut, Aceh Barat juga unggul dari sektor pertanian palawija, terutama kacang tanah dan ubi kayu. Produksi kedua komoditi ini di tahun 2011 masing-masing sebesar 3.258 ton dan 944 ton. Tak hanya itu, padi dan palawija, Kabupaten yang terkenal dengan Kupiah Meukeutop ini juga kaya dengan produksi buah-buahan, seperti durian, rambutan, langsat dan semangka. Produksi durian pada tahun 2011 mencapai 405 ton, tertinggi di banding tahun-tahun sebelumnya.

Potensi daerah
Aceh Barat tak hanya kaya dengan hasil pertanian. Letak kabupaten ini yang berbatasan langsung dengan laut juga membuat hasil dari sektor perikanan melimpah. Produksi perikanan di Aceh Barat berasal dari hasil budidaya dan perikanan tangkap. Budidaya perikanan di daerah ini berupa tambak, kolam dan perairan umum. Perikanan tangkap di laut dan pantai merupakan komoditi unggulan

Hasil produksi tambak selama tahun 2011 mencapai 21,13 ton yang berupa ikan bandeng, udang windu dan ikan nila. Budidaya tambak ini diusahakan dalam kecamatan Samatiga yang sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan laut.

Sementara budidaya kolam menghasilkan produksi yang lebih besar yaitu 92,03 ton. Budidaya ini diusahakan di semua  kecamatan dalam kabupaten Aceh Barat, budidaya terluas terletak di Kecamatan Meureubo dan Samatiga. Ikan yang banyak dipanen adalah jenis ikan mas, ikan nila dan ikan lele.

Hasil budidaya perikanan terbesar dihasilkan dari perairan umum yang mencapai 113,49 ton. Kecamatan Meureubo menyumbang produksi terbesar. Diikuti oleh Kecamatan Arongan Lambalek, Kaway XVI dan Pante Ceureumen.

Perikanan tangkap di laut adalah mata pencarian utama penduduk Aceh Barat, yang merupakan daerah pesisir. Hasil perikanan ini sangat besar mencapai 12.723,72 ton selama tahun 2011 dengan nilai 311,71 milyar rupiah. Hasil ini terdiri dari ikan sebanyak 11 234,44 ton, udang sejumlah 1 432,29 ton, kepiting 44,60 ton dan cumi-cumi 12,40 ton. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dengan produksi 11.202,63 ton atau senilai 289,01 miliar rupiah. Kecamatan penyumbang hasil perikanan tangkap terbesar adalah daerah yang berbatasan langsung dengan pantai seperti Meureubo dan Johan Pahlawan.

Bila dirinci per bulannya, produksi ikan paling banyak dihasilkan pada periode April-September yang mencapai lebih dari 1000 ton setiap bulannya. Sedangkan pada bulan-bulan lain, hasil perikanan yang berhasil ditangkap dibawah 1000 ton. Sepanjang tahun 2011 armada penangkapan perikanan laut berjumlah 803 unit, meningkat dibanding tahun 2010 yaitu 751 unit. Armada perahu bermotor lebih banyak dipakai oleh nelayan Aceh Barat.

Sebagai wilayah yang letak geografis-nya berada pada ketinggian 0-150 m dibawah permukaan laut (dpl), Aceh Barat juga sangat aktif mengembangkan sektor perkebunan seperti kelapa sawit, kelapa, kopi, coklat, nilam, karet dan lain sebagainya.

Pada tahun 2010 luas kebun karet dan kelapa sawit yang diusahakan rakyat mencapai 23.862,37 dan 5.709 hektar. Dengan luas lahan tersebut dihasilkan produksi karet dan kelapa sawit sebesar 13.259,50 dan 52.091,24 ton. Lahan karet terbesar berada di kecamatan Woyla Barat, Kaway XVI dan Arongan Lambalek. Sedangkan lahan perkebunan sawit rakyat terluas terdapat di Kecamatan Kaway XVI, Meureubo dan Arongan Lambalek.

Sekalipun dihantam dengan dahsyat oleh gelombang tsunami, Aceh Barat tetap tegar dan bangkit seperti semula. Meulaboh yang sebelumnya bernama Pasi Karam, benar-benar tak jadi karam, oleh tsunami sekali pun. Secara perlahan, Aceh Barat terus membangun dan memajukan berbagai potensi daerah, seperti semangat Teuku Umar yang pantang menyerah. [diolah dari berbagai sumber]

------
Objek Wisata di Kabupaten Aceh Barat
Meulaboh tak hanya terkenal dengan wisata sejarah, seperti makam Teuku Umar di kawasan Tutut, Kaway XVI. Cukup banyak objek wisata lain yang menawarkan sejuta pesona. Ini beberapa di antaranya:

1. Lhok Geudong, Kecamatan Johan Pahlawan
2. Pantai Ujong Karang, Kecamatan Johan Pahlawan
3. Pantai Kasih, Kecamatan Johan Pahlawan
4. Pantai Ujong Batee, Kecamatan Johan Pahlawan
5. Pantai Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan
6. Pantai Batu Putih, Kecamatan Johan Pahlawan
7. Pantai Lhok Bubon, Kecamatan Samatiga
8. Pantai Suak Geudeubang, Kecamatan Samatiga
9. Pantai Lanaga, Kecamatan Meureubo
10. Krueung Cangkoi, Kecamatan Johan Pahlawan
11. Krueng Tutut, Kecamatan Sungai Mas
12. Geunang Geudong, Kecamatan Kaway XVI
13. Krueng Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen
14. Geunang Unyan, Kecamatan Panton Reu
15. Laot Lambalek, Kecamatan Arongan Lambalek
16. Pantai Geunang Buloh, Kecamatan Pante Ceureumen