14 Mei 2010

Hasan Tiro Menyesalkan Pertemuan Panglima GAM dan Bondan

TEMPO  17-3-2000
   
   TEMPO Interaktif, Jakarta: Pertemuan antara Pejabat Sekretaris Negara,
   Bondan Gunawan, dan Panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Abdullah
   Syafeii, mengundang beragam reaksi. Dari Swedia misalnya, Jumat (17/3)
   malam ini terbetik kabar bahwa pimpinan Aceh Sumatra National
   Liberation Front (ASNLF), Tgk Hasan Muhamad di Tiro, menyayangkan
   terjadinya pertemuan itu karena Abdullah Syafeii dinilai tak punya
   wewenang politik.
   
   Kekhawatiran Hasan Tiro ini ditepis oleh seorang saksi mata dalam
   pertemuan tersebut. Pasalnya, sejak awal, menurut sumber yang turut
   hadir dalam pertemuan Bondan dan Panglima GAM itu, Abdullah Syafeii
   menegaskan bahwa Bondan diterima sebagai sesama saudara muslim yang
   bersilaturahmi di hari suci Islam (Idul Adha). "Bondan malah hampir
   diusir ketika dia mengenalkan dirinya sebagai Sekretaris Negara," ujar
   sumber itu lagi. Ketegangan mulai mencair ketika seorang anggota
   rombongan menjelaskan kehadiran Bondan untuk bersilaturahmi.
   
   "Secara pribadi, Bondan Gunawan bisa jadi sahabat saya," demikian kata
   Tgk Abdullah Syafeii, seperti yang dikisahkan kembali oleh sumber itu.
   Dalam pertemuan itu, Bondan mengucapkan syukur karena Abdullah Syafeii
   ternyata sehat-sehat saja. "Soalnya, anda dikabarkan tertembak dan
   luka parah," kata Bondan kepada panglima GAM yang terkenal loyal
   kepada Hasan Tiro itu. Abdullah Syafeii, menurut sumber itu, hanya
   tersenyum. Ia menjawab: "Itu bukti intel TNI tak beres kerjanya," kata
   Panglima AGAM yang telah 23 tahun berjuang sebagai gerilyawan.
   
   Berbeda dengan sikap Hasan Tiro, sambutan positif terhadap pertemuan
   antara Bondan dan Abdullah Syafeii mengalir dari aktivis HAM, Otto
   Syamsuddin Ishak, yang menilainya sebagai langkah awal ke arah
   perundingan penyelesaian Aceh. "Walaupun itu bukan pertemuan politik,
   tapi kita bisa melihat kalau GAM bukanlah kelompok separatis yang buta
   dan tuli," kata ketua Yayasan Cordova, Banda-aceh itu.
   
   Itu sebabnya Otto yakin pertemuan antara Bondan dan Abdullah Syafeii
   itu menunjukkan adanya sisi-sisi manusiawi yang bisa menjadi titik
   tolak dialog. Apalagi sejumlah badan internasional turut mendukung
   adanya dialog antara GAM dan pemerintah Indonesia. Misalnya, sambung
   Otto, seperti yang digagas oleh Henry Dunant Foundation, sebuah
   lembaga kemanusiaan yang berbasis di Jenewa, Swiss, yang berusaha
   mempertemukan Gus Dur dan Hasan Tiro. "Saya kira, kedua belah pihak
   telah menerima proposal perbincangan damai yang ditawarkan oleh Henry
   Dunant Foundation," ujar Otto.
   
   Sementara itu, menanggapi pertemuan antara Bondan dan Abdullah
   Syafeii, seorang sumber TEMPO Interaktif yang turut hadir di acara
   tersebut menuturkan bahwa dialog yang terjadi antara dua tokoh ini
   lebih bersifat pribadi bukan politis. Sumber ini menegaskan pula bahwa
   kehadiran Bondan Gunawan di basis gerilyawan tersebut adalah sebagai
   pribadi dan bukan mewakili negara.
   
   Seperti ramai diberitakan oleh beberapa media, Bondan melakukan
   pertemuan dengan Tgk Abdullah Syafeii di sebuah desa pada Kecamatan
   Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie, tepat pada hari raya Idul Adha
   kemarin. Sumber itu kembali menegaskan, pada pertemuan itu Tgk
   Abdullah Syafeii tak berubah pendirian politiknya bahwa Aceh harus
   bebas dari apa yang disebutnya sebagai 'kolonialisme Indonesia-Jawa'.
   "Tgk Abdullah Syafeii menganggap bahwa ia tak punya wewenang politik
   untuk memutuskan kebijakan perundingan dengan Republik Indonesia,"
   ujar sumber itu lagi.
   
   Kenyataan ini sekaligus menepis tudingan bahwa pada pertemuan kemarin
   seolah-olah jalan ke arah perundingan mulai terbuka. "Tak benar kalau
   dalam pertemuan itu GAM menginginkan Aceh menjadi negara federal.
   Mereka tetap ingin merdeka," kata sumber itu lagi. Pertemuan itu
   sendiri, menurut sumber TEMPO Interaktif tersebut, pada awalnya sempat
   tegang dan terancam batal. "Banyak pihak yang tidak ingin pertemuan
   itu terjadi," ujar sumber itu lagi. Dikisahkannya, mereka telah hadir
   di kawasan Pidie sehari sebelumnya. "Tapi situasi keamanan agak sulit,
   rombongan kami diintai terus oleh orang-orang tak dikenal," ujar
   sumber itu. Karena situasi kemanan yang tak menentu, Bondan Gunawan
   lalu melakukan kontak telepon ke Jakarta. "Kami tak tahu siapa yang
   dikontak oleh Mas Bondan, tapi yang jelas setelah itu para pengintai
   tak lagi terlihat," kata sumber itu lagi.
   
   Ia juga mengisahkan, rencana pertemuan itu sebenarnya rahasia, tapi
   tercium juga oleh aparat keamanan. "Sebelum masuk ke basis GAM, Bondan
   akhirnya bertemu lebih dulu dengan Kolonel Gunarso dari Brigade Mobil,
   serta Kapolres Pidie," ujar sumber itu lagi. Setelah pertemuan dengan
   aparat keamanan setempat, situasi pengintaian terhadap mereka pun
   mulai mencair. "Tempat kami menginap sebelum masuk ke Glumpang Tiga
   malah dikawal oleh sejumlah personil Gegana," sambungnya. (Nezar)
   
  

Artikel Terkait