09 Mei 2008

Israel, 60 Tahun Sebagai Parasit

Oleh Faisal Assegaf, wartawan Tempo

Dapat bertahan hingga 60 tahun tentu sangat membanggakan bagi pemerintah dan rakyat Israel. Karena itu, mereka menggelar pesta besar-besaran selama sepekan untuk memperingati hari kemerdekaan tersebut. Saking istimewanya, upacara kenegaraan berlangsung pada 8 Mei, mengikuti penanggalan Yahudi, dan bukan per 15 Mei sesuai dengan kalender Masehi.


Namun, jika kita memahami bagaimana Israel bisa menjadi negara maju dan kuat, cara yang mereka tempuh sangat menjijikkan dan memalukan. Negara ini hanya mengandalkan Amerika Serikat sebagai sapi perahannya. Lewat lobi Zionis yang jahat dan kotor. Israel berhasil menggerogoti kekayaan dan kemampuan negara adi daya itu. Israel menjadi negara penerima bantuan Amerika terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Total bantuan yang mereka peroleh hingga kini sedikitnya US$ 140 miliar atau sekitar Rp 1.260 triliun, sepertiga dari jumlah seluruh bantuan luar negeri Amerika.

Ini sungguh ironis. Bantuan terhadap Israel, yang berpendapatan per kapita di atas US$ 16 ribu, sepuluh kali lipat ketimbang untuk Etiopia, yang pendapatan per kapitanya hanya US$ 100 dan telah bertahun-tahun menderita kemiskinan. Angka di atas juga masih lebih besar daripada bantuan Amerika bagi seluruh negara Afrika ditambah Amerika Latin dan Karibia.

Hebatnya lagi, semua gratis meski di atas kertas ada yang sifatnya pinjaman. Amerika tidak pernah menagih, bahkan malah menghapus utang-utang Israel. Sebaliknya, Israel selalu menyatakan tidak pernah terlambat melunasi kewajibannya. Washington bahkan bersedia menjamin pinjaman yang diberikan.

Istimewanya lagi, Israel langsung mendapat bantuan tahunannya yang saat ini sekitar US$ 5,5 miliar di awal tahun anggaran. Berbeda dengan negara donor lain, yang memberikannya dalam empat tahap. Saking liciknya, mereka mendepositokan dana bantuan itu ke bank-bank di Amerika untuk dinikmati bunganya. Israel juga tidak perlu menjelaskan untuk apa saja bantuan itu dialokasikan.

Di bidang militer, posisi Israel juga sangat spesial. Mereka bisa membeli peralatan langsung ke pabrik senjata di Amerika, sedangkan negara lain harus lewat Pentagon. Tapi Israel lebih suka berbelanja di dalam negeri. Jika terpaksa, mereka menuntut perusahaan Amerika membeli pula barang mereka. Tidak puas sampai di situ, Israel sering menjual senjatanya ke negara-negara lain tanpa persetujuan Amerika.

Inilah bukti kekuatan lobi Zionis di Amerika. Kekuasaan mereka merentang dari sektor keuangan dan perbankan, media, pendidikan, hingga politik. Saat ini saja ada sekitar 52 organisasi pro-Israel di sana, di antaranya Komite Urusan Publik Amerika Israel (AIPAC), Komite Amerika Yahudi (AJC), dan Liga Anti Penistaan (ADL). Dua kali setahun para pelobi AIPAC mendatangi tiap anggota Kongres guna memastikan mereka tetap mendukung Israel. Tiap musim kampanye pemilihan presiden, Komite Aksi Politik (PAC) yang dibentuk AIPAC di seluruh negara bagian bisa membayar masing-masing calon anggota Kongres US$ 10 ribu.

Para pelobi Zionis ini juga menduduki posisi penting di lembaga-lembaga pemerintahan yang strategis. Profesor James Petras, yang mengarang buku berjudul The Power of Israel in USA, menyebut mereka sebagai Israeli Firsters, yakni orang-orang yang selalu menempatkan kepentingan Israel di atas segalanya. Ia mencontohkan Paul Wolfowitz, mantan Wakil Menteri Pertahanan yang kini menjabat Presiden Bank Dunia.

Alhasil, jangan heran jika Israel bisa terus menjajah Palestina. Para pejabat Amerika telah menjadi budak lobi Yahudi sehingga mereka berani melanggar aturan sendiri. Sesuai dengan Pasal 16 Undang-Undang Bantuan Luar Negeri, bantuan tidak boleh diberikan kepada negara yang terus melakukan kejahatan kemanusiaan.

Faktanya, Israel masih terus membunuh, menyiksa, dan membombardir rakyat Palestina. Bahkan setelah Konferensi Annapolis pada November tahun lalu, sedikitnya 350 orang tewas, kebanyakan warga Palestina. Jika dihitung sejak intifadah kedua meletus pada September 2000, total korban meninggal sekitar 4.400. Mereka bahkan sudah menciptakan krisis kemanusiaan dengan memblokade Jalur Gaza, yang dikuasai Hamas sejak pertengahan Juni tahun lalu.

Kekuatan lobi Yahudi telah mengubah Amerika menjadi penjara bagi mereka yang kritis terhadap Israel. Korban terbarunya adalah dua pengarang buku berjudul The Israel Lobby and US Foreign Policy, yang dipecat dari kampusnya masing-masing, yakni Profesor John Mearsheimer dari Universitas Chicago dan Profesor Stephen Walt dari Universitas Harvard.

Para warga Yahudi di Amerika kini menjadi warga kelas satu setelah Presiden George Walker Bush menandatangani Undang-Undang Pengkajian Anti-Semit Global pada Oktober 2004. Beleid ini mewajibkan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice memberikan laporan tahunan soal tindakan anti-Semit di seluruh dunia. Ia juga harus menunjuk seorang utusan khusus yang mengepalai kantor yang mengawasi dan memerangi anti-Semit.

Aturan itu seolah menjadi pegangan bagi Israel, sehingga mereka bisa seenaknya tidak melaksanakan 200 resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait dengan konflik dengan Palestina. Amerika pun tidak perlu malu memveto draf resolusi yang merugikan Israel. Washington telah memveto 32 resolusi yang merugikan Israel sejak sekutunya itu menginvasi Libanon pada 1982. Juga tak mengherankan bila dua bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Barack Husein Obama dan Hillary Rodham Clinton, mati-matian membela Israel jika diserang Iran.

Tak berlebihan rasanya komentar yang pernah dilontarkan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Israel memang pantas dilenyapkan karena negara itu tak ubahnya parasit yang selalu merugikan. *

Sumber: Koran Tempo, Jum’at, 09 Mei 2008
Rubrik: Opini


Artikel Terkait