14 Mei 2010

Hasan Tiro: Catatan Harian yang Tak Selesai (1)

        BANDA ACEH (MeunaSAH, 16/3/99), Tengku Hasan Muhammad di Tiro (70)
atau dikenal dengan Hasan Tiro, tokoh prokemerdekaan Aceh ternyata penulis
catatan harian yang baik. Itu bisa dibaca dalam karyanya "The Price of
Freedom: The Unfinished Diary". Harian Serambi Indonesia yang terbit di
Banda Aceh, menukil buku yang berkisah tentang perjalanan Hasan Tiro ketika
pulang ke Aceh 23 tahun lalu. Setelah kepulangannya itu ia menulis: "Catatan
Harian yang belum Selesai" itu.



Berikut ini nukilan buku itu yang akan dimuat MenunaSAH secara bersambung.

        HARI itu, 4 September 1976. Satu pesawat meninggalkan New York,
Amerika Serikat (AS). Seorang penumpangnya adalah Tengku Hasan Muhammad di
Tiro. Penerbangan itu menempuh rute Seattle - Tokyo - Hongkong, dan
wilayah-wilayah Asia Selatan lainnya. Itulah perjalanan yang membawa Hasan
Tiro pulang ke Aceh untuk mewujudkan impiannya, "Memimpin rakyat dan negara
saya". Dalam pesawat, pikiran Hasan Tiro menerawang jauh. Namun, ia pun
dapat melupakan semua kemewahan di tempat "pengasingan". Anak satu-satunya
dan istri tercinta yang cantik jelita, dengan berat hati harus berpisah.


        Meski pun berada dalam pengintaian pemerintah Indonesia, selama di
AS, Hasan Tiro merasa dirinya sukses besar dalam dunia bisnis. Ia masuk ke
jaringan bisnis besar dan berhasil menembus lingkaran pemerintahan di banyak
negara seperti di AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan. Ia
mengecualikan Indonesia. Ia menghindar berhubungan dengan Indonesia. Dari
hasil keuletannya itu, Hasan Tiro memiliki relasi bisnis dekat dengan 50
pengusaha ternama AS. Perusahaan-perusahaan mereka bergerak dalam bidang
petrokimia, pengapalan, konstruksi, penerbangan, manufaktur, dan industri
pengolahan makanan. Hasan Tiro punya hubungan kerjasama dengan beberapa
perusahan itu.

        Sebagai seorang konsultan, dia banyak memimpin delegasi-delegasi
pengusaha AS untuk bernegosiasi dalam transaksi bisnis besar di Timur
Tengah, Eropa, dan Asia. Salah satu kunjungan adalah tahun 1973. Hasan Tiro
melawat ke Riyadh dan disambut Raja Faisal.

        Ada dua hadiah yang dipersembahkan Hasan Tiro kepada Raja Arab Saudi
itu. Satu potret Raja Faisal berlatar belakang industri Arab Saudi. Dan,
satu lagi adalah album koleksi perangko bergambar Al- Malik Tengku Tjhik di
Tiro. Ini diberikan untuk mengingatkan Raja Faisal akan kepahlawanan Aceh,
sekaligus kakek buyut yang dikaguminya. Meskipun Hasan Tiro datang sebagai
ketua konsorsium pengusaha Amerika, dia masih tetap seorang Aceh, bukan
warga Indonesia.


        Hasan Tiro tidak pernah mencampur urusan bisnis dengan politik.
Rekan-rekan bisnisnya tidak tahu apa yang ada dalam benak pengusaha di
pengasingan itu. Terutama tentang ambisinya mewujudkan kemerdekaan Aceh
Sumatera. Ia tidak pernah meminta simpati, nasihat, dan dukungan mereka.
Karenanya, nama dan perusahaan para pengusaha AS itu tidak disebutkan Hasan
Tiro dalam buku hariannya yang belum selesai tersebut.


        Pesawat terus membawa Hasan Tiro semakin dekat dengan Aceh. Ia
teringat mati ketika melongo ke bawah. Ia takut mati bukannya karena
kehilangan nyawa, tapi belum melakukan sesuatu yang harus dilakukannya
kepada tanah leluhur dan rakyatnya.

        Lalu, pikirannya teringat akan musibah yang pernah dialaminya. Suatu
ketika di puncak Pegunungan Rianier, jet berkapasitas empat orang mesinnya
tiba-tiba mati mendadak. Hasan Tiro dan rekan bisnisnya, DC, duduk di depan.
Di bagian belakang duduk VDL dan MP. DC adalah pemilik perusahaan pesawat
terbesar di dunia kala itu. Ia juga mantan pilot yang sangat handal.

     
  Tujuan perjalanan mereka adalah meneliti satu kawasan di Oregon.

        Hasan Tiro berdoa kepada Allah agar ia dan tiga rekan bisnisnya
selamat dari musibah. Ia bahkan bernazar. Jika selamat akan segera pulang ke
Aceh sebelum 4 September 1976, bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-46.
Hasan Tiro dan rekan-rekannya terlepas dari cengkeraman maut. Akibat insiden
tersebut, mereka tak sempat mengikuti satu acara yang khusus dipersiapkan di
sebuah hotel mewah di Seattle.


        Nazar yang diucapkan Hasan Tiro tidak diurungkannya lagi. Namun yang
sangat berat baginya untuk melaksanakan tugas "membebaskan Aceh dari
penjajahan" adalah harus meninggalkan keluarganya. Ia harus meninggalkan
bocah laki-lakinya semata wayang, Karim, yang saat itu baru berusia enam
tahun. Ia juga terpaksa membiarkan istrinya, Dora, kesepian di tengah
keramaian Kota New York.


        Karim sangat berkesan bagi Hasan Tiro. Kemanapun dia pergi, Karim
selalu dibawa. Karim mendapat tempat istimewa dalam unfinished diary.
Bahkan, ketika Hasan Tiro sudah berada di Aceh, salah satu kamp di hutan
dinamakan sebagai Karim.


        Bocah Karim telah menunjukkan watak tertentu saat berusia empat dan
lima tahun. Ceritanya, ketika Karim dibawa ke sebuah toko permen,
segerombolan anak-anak mencoba mencuri permen. Penjaga toko tidak
mengetahuinya. Hasan Tiro yang sedang melihat-lihat beragam permen berpikir
untuk melakukan sesuatu. Tapi belum sempat ia berpikir, telah ada bunyi
peluit. Gerombolan itupun lari pontang-panting. Saat menoleh ke arah bunyi
tersebut, ia melihat Karim dengan sebuah peluit di tangannya. Wanita tua
penjaga toko itupun berterima kasih pada Karim.


        Di lain kesempatan, cerita Hasan Tiro, Karim diajaknya ke masjid
untuk shalat Jumat. Karim selalu menjadi pandangan orang dan bahkan dipeluk
para diplomat yang shalat di gedung PBB, New York. Diajaknya Karim shalat di
tempat itu, untuk membuat dia mengerti akan perintah agama. Suatu ketika,
Hasan Tiro sedang berjalan-jalan dengan Karim di Fifth Avenue, New York.
Banyak orang yang mendekati bocah itu untuk sekedar berbicara atau memegang
pipinya. Bila berjalan-jalan bersama Karim, Hasan Tiro merasa dirinya
seperti mendampingi orang penting.


        Karena putranya selalu menjadi perhatian para pejalan kaki lain. Di
lain hari, Karim ditinggalkan ayahnya di lobi Hotel Plaza. Hasan Tiro pergi
sebentar untuk menelepon seseorang. Belum selesai menelepon, ia melihat
senator Eugene McCarthy, yang kemudian menjadi seorang calon Presiden AS,
berbicara dengan Karim. Senator itu kemudian menghampiri Hasan Tiro untuk
memberi pujian kepada Karim. "Saya harus menghampiri dan berjabat tangan
dengan putra Anda, sebab ia terlihat tampan sekali!" kata senator itu
seperti dikutip Hasan Tiro.


        Mengenang itu semua, Hasan Tiro galau. Tapi, kini pesawat telah tiba
di sebuah negara Asia, Hasan Tiro mengatur rencana agar dapat masuk ke Aceh.
Selama beberapa pekan, ia memantapkan rencananya. Tepat 30 Oktober 1976,
Hasan Tiro berhasil menyusup ke Aceh dengan sebuah kapal motor kecil. Ia
mendarat dengan selamat di Pasi Lhok, Kembang Tanjong, Pidie. (Bersambung)

Artikel Terkait