12 Oktober 2011

Wagub Aceh: Dukung Film Garamku Tak Asin Lagi

Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengajak seluruh rakyat Aceh mendukung film dokumentar berjudul “Garamku Tak Asin Lagi”. Film garapan Jamaluddin Phonna kelahiran Banda Aceh dan Azhari kelahiran Samalanga Bireuen layak didukung dengan cara mengetik EAGLE (spasi) GARAM kirim ke 9899.

Film tersebut merupakan salah satu dari lima film yang masuk final Festival Film Dokumenter Eagle Awards Metro TV 2011. Mereka berhasil tembus ke final setelah mengalahkan 250 proposal peserta se-Indonesia.

“Saya nonton film tersebut di internet. Sangat menyentuh sisi kemanusiaan dan kehebatan dua mahasiswa mengangkat sisi kegigihan seorang ibu menyekolahkan anaknya,” puji Nazar kepada wartawan, Rabu (12/10).

Nazar menyebutkan, dua mahasiswa Aceh yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang Jawa Timur patut dicontoh dalam mengembangkan prestasi dan memberikan nilai motivasi serta karakter kepada masyarakat, khususnya petani garam.

Ketekunan mereka dalam melakukan riset hingga ditayangkan di televisi pada 5 Oktober lalu sangat membanggakan dan membawa nama harum Aceh di seluruh Indonesia. Karena itu, Nazar meminta kepada seluruh komponen masyarakat untuk memberikan dukungan nyata agar mereka menjadi pemenang.

“Saya mengajak Anda bisa mendukung dengan mengirim sms ke sana. Ini sangat berarti mengiring film menduduki tangga teratas,” pinta alumnus IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Mantan Ketua Presidium Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA) ini mengungkapkan ada pesan jelas yang disampaikan oleh dua sineas muda Aceh ini yakni impor garam yang marak menyebabkan produksi garam lokal tidak bernilai lagi alias tidak asin lagi. Padahal kita mengetahui bahwa Aceh merupakan satu dari sembilan provinsi di Indonesia yang memiliki lahan garam terbesar.

“Aceh memiliki garis pantai sekitar 1.500 kilometer. Potensi produksi garam yang bagus, tetapi belum tergarap baik. Sama seperti nasib pariwisata, indah dan menarik tetapi masih banyak yang sia sia karena tak bisa dijual. Petani garam masih melalukan secara tradisional yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI),” tukas mantan tahanan politik ini.

Calon Gubernur yang diusung Partai Demokrat, PPP dan SIRA ini, mengungkapkan, dirinya menginginkan garam Aceh tetap asin, berkualitas dan hiegenis—harus menjadi salah satu produk rakyat yang industrial. Dinas dinas terkait di bawah pemerintah Aceh harus segera memprogramkan langkah langkah pemberdayaan khusus kepada mereka.

“Selama ini pembinaan dilakukan sangat minim walaupun program EDFF juga ikut kita rekomendasikan untuk pembinaan petani garam,” pungkasnya. []

Artikel Terkait