08 Januari 2012

The Long Kiss Good Night dan Kisah Penyerangan Warga Non Aceh


SEMALAM saya menonton sebuah film garapan hollywood. Menurut pendapat pribadi saya sendiri, film ini masuk kategori menarik. Film ini mengajak untuk berhalusinasi sisi intelegensi kita dalam mengungkap kisah-kisah misteri, namun bukan dalam perspektif takhayul.


The Long Kiss Good Night, demikian judul film tersebut. Film ini menceritakan tentang seorang agen pembunuh wanita yang dididik oleh pemerintah Amerika. Dalam kisahnya, agen wanita bernama Samantha alias Charleine atau Charly ini hilang ingatan dalam penugasan misinya.Selama delapan tahun, Charly hidup tanpa mengetahui latar belakang dirinya sebagai seorang pembunuh yang dididik oleh Pentagon.


Kepribadian pasca amnesianya, Charly berperan sebagai seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru dan lihai memainkan pisau dapur serta mempunyai reflek bagus ketika sewaktu-waktu mendapatkan serangan dari orang-orang yang hendak membunuhnya.Suatu hari, seorang penjahat yang pernah menjadi target wanita ini melihat Charly dalam parade festival Natal, melalui televisi dari dalam penjara. Karena terisnpirasi pada balas dendam pada Charly, penjahat tersebut kabur setelah mendekam selama delapan tahun. Target utamanya adalah membunuh Charly.


Penjahat ini berhasil mendatangi rumah Charly yang sedang merayakan Natal bersama keluarganya. Rasa dendam dari penjahat tersebut, nyaris membunuh keluarga Charly. Namun, berkat serangan brutal itu, ingatan Charly yang hilang mulai kembali. Karenanya, didukung Mark, seorang mantan Polisi yang dipecat dari kesatuannya akibat mencuri saham, Charly mencari tahu latar belakang kehidupannya sebelum amnesia.



Penelusuran jejak kehidupan Charly bersama Mark yang telah berprofesi sebagai detektif swasta membawa mereka ke Deadeulus, “tunangan” Charly. Keberhasilan awal dalam mengungkap kasus ini, dilakukan Mark dan Charly berkat adanya satu petunjuk berupa kartu Natal bertuliskan tangan Daedeulus, yang mengaku tunangan wanita ini.

Namun, di saat misteri mulai terungkap, ternyata Charly dan Mark baru menyadari Deadeulus adalah target misinya setelah dibantu mantan pelatih Charly dari agensi. Mereka hampir saja terbunuh karena pada saat itu, Deadeulus telah menyiapkan perangkap untuk menjebak Charly Cs. Akibatnya, Charly dan rekan-rekannya ditahan. Pelatih Charly tewas dalam penyekapan.

Berkat didikan di agensi pembunuh, akhirnya Charly berhasil kabur dari sekapan dan menyelamatkan Mark. Karena merasa mereka dijebak, Charly akhirnya menghubungi Tn. Peterskin, Direktur agensi cabang CIA, tempat Charly bertugas.

Wanita berambut pirang tersebut, kemudian memasang perangkap pada Tn. Petersekin karena ia mempunyai insting bahwa ada orang dalam CIA yang menginginkan ia mati. Benar saja, dibantu Timothy, pembunuh bayaran Tn. Petersekin di CIA, Charly hampir saja tewas.

Timothy diperintahkan Tn. Peterskin untuk menghabisi Charly karena wanita ini tahu terlalu banyak mengenai operasi “Honey Moon”. Operasi bulan madu ini merupakan operasi CIA pada tahun 1993 untuk menggalang dana dari dunia. Pada saat itu, karena keterbatasan dana, lembaga intelijen Amerika ini membuat sebuah theory conspiracy dengan mengorbankan 4 ribu jiwa warga Amerika, dengan melakukan pengeboman di World Trade Center (WTC).

Misi Honey Moon dapat dikatakan sukses dilakukan CIA, dimana pada saat itu dunia menuduh muslim garis keras adalah pelakunya. Akibatnya, seluruh dunia mengucurkan dana trilyunan dollar untuk membantu ‘Paman Sam’ menumpas muslim yang dilabelkan sebagai teroris tersebut.

Kucuran dana itu, banyak yang diselewengkan pejabat CIA termasuk Tn. Peterskin, dalang dari pengeboman WTC. Charly yang merupakan pembunuh wanita kelas I di agensi mengantongi kunci brankas penyimpanan uang anggaran penumpasan teroris tersebut.

Charly yang berupaya menyelamatkan anaknya dari tahanan Timothy, akhirnya berhasil menggagalkan rencana operasi Honey Moon II yang di prakarsai Tn. Peterskin. Honey Moon kedua merupakan misi pelepasan bom nuklir di kawasan Amerika dengan mengambinghitamkan seorang mayat muslim yang telah dibekukan agensi.

Keberhasilan Charly membuat Pentagon memecat Tn. Peterskin dan secara langsung Presiden Amerika berterima kasih pada agen pembunuh wanita ini.

Kisah The Long Kiss Good Night yang diangkat berdasarkan fenomena peperangan Amerika terhadap teroris merupakan sebuah kisah menarik yang layak ditonton, terutama anggota kepolisian di Aceh.

Kenapa kami menuliskan hal tersebut, karena berdasarkan fenomena adanya serangkaian aksi teror berupa pengeboman beberapa bulan lalu kemudian menyusul aksi penembakan pada warga-warga pendatang, menampakkan ada simpul menarik jika ditelusuri.

Jika pun Polda dan TNI di Aceh serius menangani kasus ini, kami yakin mereka akan berhasil menemukan siapa dalang di balik rangkaian aksi teror ini. Baik itu pelaku pengeboman, penembakan dan aksi kriminal bersenjata lainnya.

Pihak keamanan bisa menyelidiki latar belakang orang-orang yang dikorbankan dalam aksi pembantaian tersebut. Apakah mereka pernah berkumpul dalam satu forum, atau pernah terlibat dalam bisnis yang sama sehingga mendatangkan masalah di kemudian hari. Jangan hanya melihat perspektif memanasnya politik Aceh belaka. Bisa jadi, warga pendatang ini terjebak masalah di kampung halaman atau daerah asalnya dan kemudian bernasib naas di Aceh.

Akan tetapi, serangkaian aksi teror ini juga bisa dilakukan oleh orang-orang yang hendak membuat Aceh mencekam. Pasalnya, saat ini negeri yang baru saja aman dari peperangan sedang menuju pesta demokrasi guna memilih pemimpin-pemimpin barunya. Dan sangat kebetulan, dalam perjalanan pesta demokrasi ini tidak semua elemen lembaga atau kandidat berhasil masuk sebagai calon pemimpin dalam bursa pemilihan Februari 2012 mendatang.

Hal yang kebetulan ini, kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk kembali menyingkap konflik Aceh dengan beragam kepentingan. Bisa jadi, aksi penembakan ini hanya didasari pada kepentingan bisnis personal antara korban dan pelaku atau ada motif lainnya yang terselubung.

Sebulan terakhir saja, ada empat kasus penembakan yang mengorbankan belasan korban. Kasus penembakan di perkebunan PT. Satya Agung, Aceh Utara dengan jumlah korban sebanyak tiga orang yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2012, misalnya. Penembakan para pekerja ini dilakukan bertepatan dengan hari perayaan sebuah institusi yang terlibat langsung dalam konflik beberapa tahun silam. Dalam penembakan ini, Sugeng (45), Karno (50) dan Herianto (30) tewas.

Kemudian menyusul penembakan para pekerja proyek Telkomsel yang bertepatan dengan perayaan tahun baru 2012. Dalam aksi ini, Daud (30), Suparno (31) dan Sunyoto (28) juga tewas. Nyaris sama dengan kasus penembakan di Bireuen ini, di Banda Aceh, Wagino (40) seorang pedagang pendatang dari luar Aceh juga tewas bersimbah darah pada saat perayaan tahun baru.

Dan yang terakhir adalah kisah penembakan sejumlah pekerja pendatang di Aneuk Galong, Sibreh yang menewaskan Gunoko (30).

Dari serangkaian penembakan ini, tiga kasus aksi teror dilakukan bertepatan dengan kesibukan pihak keamanan mengamankan daerah Aceh. Misalnya pada tanggal 4 Desember, pihak keamanan di Aceh fokus pada perayaan Milad GAM. Kemudian pada tanggal 31 Desember, pihak keamanan juga sedang difokuskan pada penjagaan beberapa tempat atau lokasi guna mengamankan momen tahun baru di Aceh. Sementara kasus terakhir, agak berbeda.

Dari hal ini, ada sebuah kunci atau teka-teki yang muncul selain identitas korban sebagai warga pendatang, pelaku misterius ini nampaknya paham benar situasi dan kondisi keamanan Aceh serta bisa menebak fokus pengamanan yang dilakukan kepolisian sehingga mempunyai peluang untuk mengejar target.

Bukan tidak mungkin, ada skenario dan dalang besar dalam aksi teror ini karena dari sisi operasi teror bisa kita petakan adanya sindikat yang bermain. Untuk mengantisipasi besarnya kemungkinan Aceh kembali ke ladang konflik, Presiden SBY memerintahkan Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo untuk segera menangkap penembak warga di Aceh. Ini merupakan peluang bagus untuk Polisi, jika memang mempunyai itikad baik menumpas aksi teror di Aceh dengan tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah. Dalam artian benar-benar menangkap pelaku penembak misterius tersebut.[***]


Artikel Terkait