22 Desember 2011

Belasan Gajah Rusak Kebun Karet di Nagan

Meulaboh - Belasan gajah liar mengamuk dan merusak perkebunan karet milik warga di Kecamatan Seunagan Timur Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.

Camat Seunagan Timur T Rachmad Syah SE yang dihubunggi dari Meulaboh, Kamis (22/12) mengatakan, sebelum belasan gajah mengancurkan perkebunan rakyat, satwa dilindungi itu diusik keberadaanya oleh warga setempat yang resah karena berkeliaran dipemukiman mereka.

"Untuk laporan resmi berapa kerugian masyarakat, belum ada laporan, karena belum ada yang mengadu kepemerintah kecamatan, dan amukan gajah liar itu memang benar adanya," katanya.

Sebut Rachmad, keberadaan satwa liar itu berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat kota kecamatan dan harus menyeberanggi sungai agar sampai ke kawasan perkebunan karet dan kelapa sawit milik rakyat.

Jelasnya, di kawasan setempat ada lima desa yakni Blang Lanjong, Tuwie Meubrong, Blang Tengku, Pila dan Kandid yang didiami oleh ribuan kepala keluarga yang berkerja sebagai petani di kebun karet.

Lanjutnya, semula warga setempat tidak bermaksud mengusik keberadaan satwa ini, akan tetapi karena khawatir akan lalu lalang serta melihat kawanan gajah mencari makan di kebun, warga setempat berinisiatif mengusirnya.

"Setelah dicoba usir, ternyata gajah-gajah ini kembali ke perkebunan warga dan dia marah kemudian menghancurkan apa yang dilihatnya, dan belum ada pihak yang mampu menanggani hal itu," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, malahan kawanan binatang berbelalai panjang tersebut sudah pernah datang ke pusat kota kecamatan menakuti warga, meskipun belum ditemukan adanya korban jiwa, namun kerugian masyarakat ditaksirkan dalam angka cukup besar.

Kata Rachmad, pemerintah kecamatan sudah berulang kali memintakan penanganan dari pihak pemerintah provinsi Aceh agar mengirimkan anggota Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) untuk turun menanggani agar masyarakat tidak resah dan gajah liar itu tidak mengamuk.

Ia menyebutkan, pemerintah kabupaten dalam hal ini tidak mampu berbuat banyak, karena belum memiliki pawang gajah yang ampuh atau BKSDA yang profesional menanggani konflik warga dengan satwa dilindungi tersebut.

"Kita mengharapkan pemerintah provinsi Aceh dalam hal ini untuk segera turun membantu daerah, karena kita disini tidak cukup mahir mengusir mereka, malahan nanti warga disini yang kembali jadi sasarannya," katanya.[Antara]

Artikel Terkait