17 Desember 2011

Selama di SPN Anak Punk Dibekali Ilmu Agama

Aceh Besar - Puluhan anak punk yang terjaring razia saat menggelar konser di Banda Aceh Sabtu (10/12) lalu mendapatkan pembinaan di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar (16/12). Anak Punk yang sebelumnya hidup bebas tanpa aturan, kini dilatih kedisiplinan dan menghargai sesama.


Ke-59 orang anggota komunitas punk di Banda Aceh ini terjaring razia yang digelar pemerintah kota Banda Aceh. Pemko menganggap keberadaan mereka menggangu ketertiban umum dan penerapan Syariat Islam di Aceh.


Selama 10 hari di SPN Seulawah Aceh Besar, mereka mendapat bimbingan mental dan dilatih kedisiplinan serta diajarkan menghargai sesama. Selain diisi dengan latihan baris-berbaris, mereka juga mendapatkan pembinaan rohani dari para pendidik di sekolah kepolisian tersebut.


Sarah, 18 tahun, salah seorang anggota komunitas Punk mengaku sebelum ditangkap dan mengikuti pelatihan ini, dirinya bergabung dengan komunitas Punk karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Sarah memilih hidup bebas dan nyaman bergabung bersama teman-temannya itu. ”Saya ada masalah di rumah, kemudian saya mencari pengalaman baru,” kata Sarah.


Selama ini di SPN, Sarah merasa senang karena mendapat ilmu soal pelajaran baris berbaris dan juga kedisiplinan. ”Disiplin banyak kegiatan dan banyak perubahan lah,” ungkap Sarah yang berkeinginan selepas dari program pembinaan di SPN ingin segera melanjutkan pendidikannya di salah satu SMA Negeri Bireuen.


Anak Punk ini tidak semuanya berasal dari Aceh, tapi juga berasal dari beberapa daerah lain seperti Sumatera Utara, Lampung, Palembang, Jambi, Batam, Riau, Padang, Jakarta dan Jawa Barat.


Ai, 15 tahun, Punkers asal Medan ini mengaku datang ke Aceh untuk mengikuti konser amal yang digelar Punkers Aceh. Ai mengaku senang selama mengikuti pembinaan di sekolah polisi tersebut, namun Ai karena belum memberitahukan keberadaannya di SPN Seulawah. Handphone miliknya telah disita polisi. "Saya tidak bisa menghubungi orang tua, karena Hp disita orang Poltabes,” ujar Ai yang mengaku hingga saat ini masih aktif bersekolah di salah satu SMA di Medan.


Program pembimbingan bagi anggota komunitas Punk ini merupakan inisiatif dari pemerintah kota Banda Aceh. Usai mengikuti pelatihan, para anggota komunitas Punk ini diharapkan dapat hidup normal. []


Artikel Terkait